InvestasiPlus!

Icon

I n v e s t a s i S e b e n a r n y a

Unitlink atau Reksadana saat Krisis

mutual-fundPernah suatu kali ada email berantai yang isinya kurang lebih menyarankan agar berhenti dulu mengambil asuransi yang berkaitan dengan reksadana (unitlink) kemudian juga dianjurkan tidak berinvestasi pada reksadana melainkan memegang uang cash (kontan)

Pendapat demikian tidak 100% salah atau 100% betul, sekali lagi tergantung kebutuhan dari masing-masing individu. Contoh misalnya orang tersebut sudah berasuransi selama 3 tahun, lalu gara-gara krisis keuangan global ia tidak meneruskan lagi membayar premi karena asuransi tersebut berkaitan dengan reksadana atau yang disebut unitlink. Untuk hal ini tidaklah bijaksana, karena nasabah akan mengalami 2 kerugian : 1. kehilangan proteksi 2. kehilangan potensi hasil investasi di masa depan karena saat ini ia belum membutuhkan dana tersebut.

Ada juga saran yang menyatakan bila mengambil reksadana atau unitlink yang mayoritas dananya di saham agar segera dipindahkan ke yang fix income atau resiko rendah. Menurut saya ini terbalik, karena bila melakukan ini ada 2 kerugian yaitu : 1. Anda berarti cut loss ( menjual rugi ) reksadana atau unitlink saham tersebut pada saat harga rendah 2. Anda membeli instrumen fix income yang harganya sedang naik. Jadi ruginya 2 kali. Saran saya, tetap melakukan pembelian atau pembayaran premi reksdana saham dengan prinsip dollar cost averaging karena Anda akan diuntungkan oleh harga unit yang rendah , toh Anda belum memerlukan uangnya sekarang.

Pelajaran yang dapat diambil dari krisis keuangan global berkaitan dengan investasi di reksadana atau unitlink ialah :

  1. Tentukan tujuan investasi Anda
  2. Tentukan jangka waktu Anda berinvestasi, pendek (<3 tahun), sedang (3-5 tahun), panjang (>5 tahun)
  3. Pantau dan sesuaikan alokasi aset Anda, artinya bila awalnya Anda bertujuan jangka waktu 10 tahun maka 3 tahun sebelum jatuh tempo investasi Anda menjadi jangka pendek. Saat itu Anda harus merubah portfolio investasi Anda menjadi resiko yang lebih kecil.

Filed under: Artikel, Asuransi, Reksadana , , , , , , , , , , ,

Menabung, Investasi, mau, mau, mau ???

84429672Masih banyak yang salah kaprah antara menabung dan berinvestasi. Di sekitar saya orangtua yang baru mempunyai anak buru2 mencari asuransi. Waktu ditanya,”untuk asuransi apa?”, “asuransi pendidikan,” jawab mereka.
Ada juga pasangan yang mau menikah tahun depan, mereka bertanya kepada saya,”ini uang gue investasi di mana ya, tahun depan gue mau menikah biar duitnya bisa tambah banyak.”
Yang lucu lagi,”wah gue rugi investasi di reksadana, kapok ah mending investasi di deposito”

Singkatnya menabung ialah menyimpan uang dalam jangka pendek <5 tahun dan disaat kita membutuhkannya uang tersebut ada. Dalam arti “ada” yaitu dana yang kita taruh pada lembaga keuangan tetap besarnya walaupun kalau dihitung inflasi merugi. Bahkan sekarang ada LPS (lembaga penjamin simpanan) sehingga walaupun lembaga tersebut kolaps atau bangkrut pemerintah akan menggantinya dan kita tetap mendapatkan utuh sesuai yang kita setor di awalnya.

Sementara berinvestasi ialah menaruh uang pada suatu lembaga keuangan atau bisnis tertentu yang kita harapkan dapat mendatangkan keuntungan tapi bukan jaminan pasti untung.

Jadi kalau ada yang mengajak berinvestasi dengan kata2,“pasti untung”, hati-hatilah…ingat beberapa kasus di indonesia, probest, usaha perkebunan yang melibatkan sejumlah pejabat, dll…

Filed under: Dana Pendidikan, Keuangan Pribadi, Yang Lain , , , , , , ,

Bisnis Kebal Krisis

Saat ini dunia sedang mengalami krisis keuangan. Harga minyak mentah di bawah 50 USD/barrel. Negara Amerika dan Eropa diramalkan mengalami penurunan dalam pertumbuhan ekonomi, beberapa mencapai dibawah 0%.

Tentunya Anda juga ingat bagaimana krisis keuangan seperti ini melanda Asia di tahun 1998. Namun demikian seperti kata pepatah,”ada kesempatan dalam kesempitan”, masih banyak para pelaku bisnis yang mempunyai ide cemerlang sehingga bisa bertahan bahkan mencapai puncaknya saat krisis.
Sebenarnya separah apapun krisis, ada beberapa sektor bisnis yang tetap berjalan dengan baik, antara lain :
- sektor komsumsi : separah apapun kondisi negara tersebut makanan tetap dibutuhkan
- sektor kesehatan : obat2an, rumah sakit, pusat rehabilitasi, dll juga tetap diperlukan karena musibah sakit bukanlah suatu keinginan tetapi keadaan terpaksa.
- sektor telekomunikasi : komunikasi tetap dibutuhkan bahkan menjadi kebutuhan yang utama
- sektor hiburan : radio, televisi, di saat banyak pekerja yang di PHK akan semakin banyak waktu mereka tersita di depan layar kaca atau mendengarkan siaran radio
- sektor keuangan : asuransi, asuransi adalah bisnis jangka panjang, tentunya ada beberapa yang gagal bayar karena kesulitan keuangan namun akan ada produk2 yang menyiasati kondisi keuangan. Asuransi di saat kondisi keuangan sulit menjadi satu-satunya instrumen yang dapat membantu.

Sekarang tinggal bagaimana kita mencari ide-ide kreatif untuk tetap bertahan dan menang !

Filed under: Yang Lain , , , , , , , ,